Beranda / Berita / Detail
Jamanis, 04/09/2026— Setiap lembaga pendidikan memiliki sejarahnya sendiri. Ada yang lahir dari sebuah gagasan besar, ada pula yang tumbuh perlahan dari pengabdian yang panjang. Namun, hampir semuanya memiliki satu kesamaan: adanya seseorang atau sekelompok orang yang berani menanamkan cita-cita untuk masa depan.
Di Kampung Tonjong, Desa Sindangraja, Kecamatan Jamanis, Kabupaten Tasikmalaya, perjalanan tersebut tumbuh dari sebuah tradisi pendidikan Al-Qur’an yang kemudian berkembang menjadi sebuah ekosistem pendidikan yang lebih luas.
Di balik perjalanan itu terdapat sosok KH. Abdussobur Al-Hafidz, pimpinan Pondok Pesantren Majlis Huffadh Miftahul Qur’an, yang menjadikan pendidikan Al-Qur’an sebagai salah satu fondasi utama dalam membangun generasi.
Dari pesantren, lahirlah gagasan untuk menghadirkan pendidikan formal. Dari gagasan tersebut kemudian tumbuh SMP Islam Miftahul Qur’an, dan selanjutnya berkembang menuju cita-cita pendidikan jenjang menengah atas melalui SMA Islam Miftahul Qur’an.
Perjalanan tersebut bukan sekadar tentang mendirikan lembaga. Ia merupakan cerita tentang bagaimana sebuah visi pendidikan diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.
1. PESANTREN: TITIK AWAL PERJUANGAN
Perjalanan pendidikan Majlis Huffadh Miftahul Qur’an berakar dari lingkungan pesantren yang menempatkan Al-Qur’an sebagai pusat pembinaan.
Pondok Pesantren Majlis Huffadh Miftahul Qur’an berada di Kampung Tonjong, Desa Sindangraja, Kecamatan Jamanis, Kabupaten Tasikmalaya. Dokumen kelembagaan yang tersedia secara publik menunjukkan bahwa pesantren telah menjalankan aktivitas pendidikan dan pengabdian kepada masyarakat setidaknya sejak tahun 2009, ketika pesantren berbasis hafalan Alquran belum populis seperti sekarang.
Pesantren kemudian menjadi ruang tumbuh bagi para santri untuk mendalami Al-Qur’an, ilmu agama, adab, kedisiplinan, dan kehidupan bersama.
Di sinilah gagasan pendidikan tidak berhenti pada transfer pengetahuan.
Pendidikan dipahami sebagai proses pembentukan manusia.
Santri tidak hanya diarahkan untuk mengetahui, tetapi juga untuk mengamalkan. Tidak hanya mengejar kecerdasan, tetapi juga membangun akhlak. Tidak hanya memiliki kemampuan membaca dan menghafal Al-Qur’an, tetapi juga diharapkan mampu menjadikan nilai-nilai Al-Qur’an sebagai pedoman kehidupan.
Bagi KH. Abdussobur Al-Hafidz, pesantren menjadi fondasi penting untuk membangun generasi yang memiliki akar keagamaan yang kuat.
Namun perjalanan zaman menghadirkan tantangan baru.
Generasi muda membutuhkan pendidikan yang lebih luas. Mereka harus memiliki kemampuan akademik, wawasan ilmu pengetahuan, keterampilan sosial, sekaligus tetap memiliki karakter dan nilai keislaman.
Dari sinilah gagasan baru mulai tumbuh.
2. DARI KEGELISAHAN MENJADI GAGASAN PENDIDIKAN
Seiring berkembangnya kehidupan masyarakat, kebutuhan terhadap pendidikan yang memadukan pesantren dan sekolah formal semakin dirasakan.
Ada cita-cita agar anak-anak yang tumbuh di lingkungan pesantren tidak harus memilih antara pendidikan agama dan pendidikan umum.
Keduanya dapat berjalan bersama.
Pesantren memberikan fondasi iman, Al-Qur’an, akhlak, dan tradisi keilmuan.
Sekolah memberikan ruang bagi pengembangan pengetahuan, akademik, keterampilan, kreativitas, dan kesiapan menghadapi perkembangan zaman.
Dari pemikiran itulah lahir gagasan untuk menghadirkan lembaga pendidikan formal yang tetap memiliki ruh pesantren.
Bukan sekadar sekolah yang berada di dekat pesantren, tetapi sekolah yang tumbuh dari nilai-nilai kepesantrenan.
Gagasan tersebut kemudian diwujudkan melalui pendirian SMP Islam Miftahul Qur’an.
3. 2023: LAHIRNYA SMP ISLAM MIFTAHUL QUR’AN
Tahun 2023 menjadi salah satu tonggak penting dalam perjalanan pendidikan di lingkungan Yayasan Huffadhul Qur’an Jauharotul ‘Arifin.
Secara administratif, SMP Islam Miftahul Qur’an tercatat memperoleh SK pendirian pada 15 Januari 2023 dengan nomor 421.3/02/MHMQ/I/2023, berada di bawah naungan Yayasan Huffadhul Qur’an Jauharotul ‘Arifin. Selanjutnya, izin operasional tercatat pada 19 Oktober 2023.
Kehadiran SMP Islam Miftahul Qur’an menjadi jawaban atas cita-cita untuk menghadirkan pendidikan formal yang tetap memiliki karakter kuat sebagai bagian dari lingkungan pesantren.
Sekolah tidak ditempatkan sebagai institusi yang berdiri sendiri.
Ia menjadi bagian dari perjalanan besar pendidikan berbasis Al-Qur’an.
Di sinilah peserta didik mendapatkan pendidikan umum sekaligus berada dalam lingkungan yang dekat dengan kehidupan pesantren.
Dengan demikian, ruang pendidikan menjadi lebih luas.
Pada pagi dan siang hari, peserta didik belajar berbagai disiplin ilmu di sekolah.
Sementara nilai-nilai keagamaan, pembiasaan ibadah, tahfizh, kedisiplinan, dan pembentukan akhlak menjadi bagian yang terus mengiringi kehidupan mereka.
4. SEKOLAH SEBAGAI PERPANJANGAN DARI PESANTREN
Pendirian SMP Islam Miftahul Qur’an membawa sebuah konsep penting: pendidikan tidak boleh terputus antara ilmu dan akhlak.
Sekolah menjadi ruang untuk mengembangkan kecerdasan akademik.
Pesantren menjadi lingkungan untuk memperkuat karakter dan spiritualitas.
Keduanya dipertemukan dalam satu cita-cita: membentuk generasi Qur’ani yang mampu menghadapi zaman tanpa kehilangan jati dirinya.
Dalam perjalanan berikutnya, lembaga pendidikan ini terus berkembang melalui penguatan tenaga pendidik, sarana prasarana, program akademik, kegiatan kesiswaan, serta berbagai program pembinaan karakter.
Bagi para penggagasnya, setiap perkembangan bukan sekadar pencapaian kelembagaan.
Di balik setiap ruang kelas terdapat harapan.
Di balik setiap guru terdapat amanah.
Dan di balik setiap peserta didik terdapat masa depan yang sedang dipersiapkan.
5. DARI SMP MENUJU SMA: MELANJUTKAN MATA RANTAI PENDIDIKAN
Setelah pendidikan jenjang SMP berkembang, muncul kebutuhan berikutnya.
Bagaimana agar peserta didik dapat melanjutkan pendidikan dalam lingkungan yang memiliki nilai dan visi yang sama?
Pertanyaan tersebut kemudian melahirkan gagasan pengembangan pendidikan menuju jenjang SMA Islam Miftahul Qur’an.
Jika SMP merupakan langkah awal dalam membangun pendidikan formal berbasis pesantren, maka SMA menjadi kelanjutan dari mata rantai tersebut.
Cita-citanya adalah menciptakan kesinambungan.
Peserta didik tidak hanya mendapatkan pendidikan pada jenjang pertama, tetapi memiliki kesempatan untuk melanjutkan pembentukan karakter, penguatan akademik, dan pendidikan Al-Qur’an pada jenjang berikutnya.
Dengan demikian, perjalanan pendidikan tidak berhenti pada satu jenjang.
Ia terus bergerak.
Dari anak-anak yang mulai mengenal dunia pendidikan menengah, menuju remaja yang dipersiapkan menjadi pribadi dewasa, mandiri, berilmu, dan memiliki tanggung jawab sosial.
6. SEBUAH VISI: MEMADUKAN AL-QUR’AN, ILMU, DAN AKHLAK
Jika dirunut dari perjalanan sejarahnya, perkembangan pendidikan Majlis Huffadh Miftahul Qur’an dapat dilihat sebagai sebuah mata rantai:
Pesantren → Penguatan kelembagaan → SMP Islam Miftahul Qur’an → SMA Islam Miftahul Qur’an.
Namun mata rantai tersebut bukan hanya hubungan administratif.
Di dalamnya terdapat kesinambungan nilai.
Pesantren menjadi akar.
SMP menjadi salah satu batang yang tumbuh.
SMA menjadi kelanjutan cabang pendidikan.
Sementara generasi yang lahir dari seluruh proses tersebut diharapkan menjadi buah yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
Inilah filosofi yang menjadikan pembangunan pendidikan bukan hanya tentang mendirikan gedung.
Gedung dapat dibangun dalam waktu tertentu.
Tetapi membangun manusia membutuhkan waktu yang jauh lebih panjang.
Karena itu, pendidikan membutuhkan kesabaran.
Membutuhkan keteladanan.
Membutuhkan guru yang ikhlas.
Dan membutuhkan visi yang jauh ke depan.
7. KH. ABDUSSOBUR AL-HAFIDZ DAN CITA-CITA YANG DIWARISKAN
Di tengah perjalanan tersebut, sosok KH. Abdussobur Al-Hafidz menjadi bagian penting dari sejarah pendidikan di lingkungan Majlis Huffadh Miftahul Qur’an.
Sebagai pimpinan pesantren, beliau tidak hanya memandang pesantren sebagai tempat pendidikan agama, tetapi juga sebagai titik awal pembangunan generasi.
Gagasan menghadirkan pendidikan formal memperlihatkan sebuah pandangan bahwa santri dan peserta didik harus dipersiapkan menghadapi kehidupan yang terus berubah.
Mereka harus memiliki akar agama yang kuat, tetapi juga mampu membaca perkembangan zaman.
Mereka harus mencintai Al-Qur’an, tetapi juga menguasai ilmu pengetahuan.
Mereka harus memiliki kecerdasan, tetapi tidak kehilangan adab.
Dan mereka harus memiliki cita-cita, tetapi tetap memiliki kepedulian terhadap masyarakat.
Dari situlah pendidikan memperoleh makna yang lebih luas.
8. WARISAN TERBESAR ADALAH GENERASI
Pada akhirnya, sejarah sebuah pesantren dan sekolah tidak hanya diukur dari kapan bangunannya berdiri atau berapa banyak ruang kelas yang dimiliki.
Sejarah pendidikan akan jauh lebih berarti ketika melihat manusia yang berhasil dibentuknya.
Seorang santri yang menjadi guru.
Seorang peserta didik yang menjadi ulama.
Seorang lulusan yang menjadi pemimpin.
Seorang alumni yang mengabdikan dirinya kepada masyarakat.
Atau seorang anak yang tumbuh menjadi pribadi sederhana, berilmu, dan berakhlak.
Mereka semua adalah bagian dari keberhasilan pendidikan.
Karena itu, perjalanan dari Pondok Pesantren Majlis Huffadh Miftahul Qur’an menuju SMP Islam Miftahul Qur’an dan SMA Islam Miftahul Qur’an sesungguhnya merupakan perjalanan panjang untuk membangun manusia.
9. MENANAM HARI INI, MEMETIK MASA DEPAN
Sejarah selalu mengajarkan bahwa perubahan besar tidak lahir dalam satu malam.
Ia dimulai dari sebuah keyakinan.
Kemudian menjadi gagasan.
Gagasan diwujudkan melalui perjuangan.
Perjuangan melahirkan lembaga.
Dan lembaga pada akhirnya melahirkan generasi.
Begitulah perjalanan pendidikan yang tumbuh dari lingkungan Majlis Huffadh Miftahul Qur’an.
Dari pesantren yang menanamkan kecintaan kepada Al-Qur’an, lahir gagasan pendidikan formal.
Dari gagasan tersebut berdiri SMP Islam Miftahul Qur’an.
Dari kebutuhan kesinambungan pendidikan, kemudian berkembang cita-cita menghadirkan SMA Islam Miftahul Qur’an.
Semua bergerak menuju satu tujuan:
melahirkan generasi yang Qur’ani, berilmu, berakhlak, mandiri, dan mampu memberikan manfaat bagi agama, masyarakat, bangsa, dan negara.
Sebab pada akhirnya, mendirikan lembaga pendidikan bukan hanya tentang membangun tempat untuk belajar.
Ia adalah ikhtiar menanam masa depan.
Dan setiap generasi yang tumbuh dari dalamnya adalah bagian dari sejarah yang akan melanjutkan perjalanan tersebut.
KRONOLOGI SINGKAT
Pondok Pesantren Majlis Huffadh Miftahul Qur’an
→ Menjadi fondasi pendidikan Al-Qur’an, keagamaan, dan pembentukan karakter di lingkungan Kampung Tonjong, Sindangraja, Jamanis.
Yayasan Huffadhul Qur’an Jauharotul ‘Arifin
→ Menjadi wadah kelembagaan yang menaungi pengembangan pendidikan dan pesantren. Dokumen publik mencatat akta notaris yayasan tertanggal 28 Desember 2011.
SMP Islam Miftahul Qur’an — 2023
→ SK pendirian 15 Januari 2023; kemudian izin operasional tercatat 19 Oktober 2023.
SMA Islam Miftahul Qur’an
→ didirikan pada Tahun 2024 menjadi bagian dari pengembangan pendidikan berkelanjutan agar peserta didik dapat meneruskan pendidikan dalam ekosistem yang tetap berlandaskan nilai-nilai Qur’ani dan kepesantrenan.
KH. Abdussobur Al-Hafidz
→ Pimpinan Pondok Pesantren Majlis Huffadh Miftahul Qur’an dan salah satu tokoh penting dalam prakarsa pengembangan pendidikan dari lingkungan pesantren menuju pendidikan formal.
“Pesantren menanamkan akar, sekolah menumbuhkan pengetahuan, dan generasi menjadi buah dari perjuangan pendidikan.”